Utbah, Putra Abu Lahab yang Taat

BERBEDA dengan sang ayah yang wafat dalam keadaan kufur, Utbah memilih memeluk Islam saat Kota Mekah berhasil ditaklukkan kaum muslimin. Ia pun berpihak kepada Nabi dan berada di barisan kaum muslimin.

Nama dan nasab Utbah adalah Utbah bin Abdul Uzza (Abu Lahab) bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay. Ia seorang Quraisy dari Bani Hasyim. Kekerabatannya dengan Rasulullah sangat dekat. Ia adalah putra paman Nabi. Artinya, statusnya adalah sepupu Nabi Muhammad SAW.

Utbah memeluk Islam bersama saudaranya Mu’attab di hari penaklukkan Kota Mekah. Awalnya, keduanya kabur. Kemudian Rasulullah mengutus paman Nabi dan paman keduanya, Abbas bin Abdul Muthalib radhiallahu ‘anhu untuk menemui keduanya. Keduanya datang menghadap Nabi dan memeluk Islam. Nabi pun bergembira dengan keislaman dua orang sepupunya ini.

Utbah juga turut serta berjihad bersama Rasulullah SAW dalam Perang Hunain. Utbah juga tidak lari saat terjadi kekacauan di awal peperangan. Utbah juga turut serta pula dalam Perang Thaif. Ibnu Said membawakan sebuah riwayat tentang kisah keislaman Utbah. Ia menyatakan bahwa Ibnu Abbas meriwayatkan dari ayahnya Abbas bin Abdul Muthalib.

Abbas bercerita, “Saat Rasulullah SAW tiba di Mekah pada hari Fathu Mekah, beliau berkata padaku, ‘Hai Abbas, mana dua orang putra saudaramu; Utbah dan Mu’attab?’ Aku jawab, ‘Keduanya menyingkir di suatu tempat’. ‘Datangkan keduanya padaku’, kata Nabi. Aku pun mengendarai tungganganku menemui keduanya di Arafah. Keduanya bergegas menemui Nabi. Lalu memeluk Islam. Dan membaiat beliau. Rasulullah SAW berdiri dan meraih kedua tangan dua putra pamannya itu.

Nabi berjalan di antara keduanya. Lalu mengajak keduanya ke Multazam -sisi Ka’bah antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah-. Beliau berdoa sesaat. Setelah itu berbalik. Tampak rona bahagia di wajah beliau. Aku (Abbas) bertanya pada beliau, ‘Semoga Allah membuatmu bahagia, Rasulullah.

Sungguh aku melihat rona bahagia pada wajah Anda’. Nabi SAWberkata, ‘Iya. Sungguh aku memohon kepada Allah tentang dua orang putra pamanku ini. Dan Allah mengaruniakan keduanya padaku (dengan keislamannya)’. (al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah).

Hamzah bin Utbah berkata, “Keduanya berangkat bersama Rasulullah ke Hunain dan berperang bersama beliau di sana. Saat (terjadi kekacauan), keduanya, beberapa orang dari ahlul bait yang lain, dan sebagian sahabat tetap bersama Nabi (tidak lari). Di perang itu, mata Mu’attab terkena senjata musuh. Setelah terjadi penaklukkan Mekah, tak ada seorang pun laki-laki dari Bani Hasyim (ahlul bait) di Mekah yang bersama Nabi kecuali Utbah dan Mu’attab putra Abu Lahab (ath-Thabaqat al-Kubra).

Di masa jahiliyah, Utbah adalah menantu Rasulullah SAW. Ia menikah dengan putri beliau Ruaqayyah. Sedangkan saudaranya Utaibah bin Abu Lahab menikah dengan putri beliau Ummu Kultsum. Saat turun surat Al-Lahab atau Al-Masad, ayah keduanya, Abu Lahab, dan ibunya, Ummu Jamil binti Harb, berkata pada dua orang putranya ini, “Ceraikan putri Muhammad”! Keduanya pun menceraikan dua orang putri Nabi sebelum mencampurinya.

Rasulullah dan istri beliau, Ummul Mukminin Khadijah, menikahkan putrinya dengan Utbah menunjukkan bagaimana kedudukan Utbah di sisi beliau dan Khadijah. Oleh karena itu, beliau bergembira dengan keislamannya. Sampai kegembiraan itu terekspresikan di wajah beliau.

Beliau berkata pada Abbas, ‘Iya. Sungguh aku memohon kepada Allah tentang dua orang putra pamanku ini. Dan Allah mengaruniakan keduanya padaku (dengan keislamannya)’. (al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah).

Diriwayatkan ath-Thabrani bahwa Rasulullah SAW menemui Utbah dan Mu’attab di hari Fathu mekah. Beliau berkata pada khalayak, “Keduanya ini adalah saudaraku. Putra pamanku -beliau bergembira dengan keislaman keduanya-. Aku memohon kepada Allah tentang dua orang putra pamanku ini. Dan Allah mengaruniakan keduanya padaku (dengan keislamannya).” (Raudhatul Unfi).

Utbah tinggal menetap di Mekah hingga wafat. Di masa pemerintah Umar, namanya tak lagi disebut. Demikian juga di masa pemerintahan Abu Bakar. Namun pendapat yang kuat ia wafat di masa pemerintahan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu (al-Ishabah 4/365).***

Tinggalkan komentar