Kisah Bendungan Ma’rib di Yaman

PROPINSI Ma’rib di Yaman, memiliki sejarah besar yang berakhir tragis. Ma’rib adalah ibu kota Kerajaan Saba’ di masa silam. Saba’ adalah sebuah kerajaan kuno yang berdiri sekitar 1000 tahun sebelum Masehi.

Kala itu di negeri ini ada Bendungan Ma’rib. Sebuah bendungan yang masyhur dengan nama Bendungan Iram, dibangun sekitar tahun 1750 SM dan 1700 SM. Bendungan Iram dinobatkan sebagai bendungan tertua di dunia. Bendungan ini dibangun oleh seorang arsitek yang bernama Samha’ali Yunuf bin Dzimar Ali.

Bendungan Ma’rib memiliki tinggi 16 meter, lebar 60 meter, dan panjang 620 meter. Total wilayah yang dapat diari oleh bendungan ini adalah 9.600 hektar. 5.300 hektar dataran bagian selatan bendungan dan sisanya dataran sebelah barat seluas 4.300 hektar. Inilah yang diungkapkan dalam Al-Quran dengan dua kebun di sisi kiri dan kanan.

Pada tahun 542 M, icon peradaban kuno Yaman ini hancur oleh banjir besar. Kebun-kebun di sekitarnya yang ratusan tahun mereka nikmati hasilya, luluh lantak. Tak lama setelah itu, berakhirlah cerita tentang negeri Saba’. Fisik bendungan ini masih bisa dijumpai di zaman sekarang. Tepatnya di Kota Kuno Ma’rib.

Kehancuran ini diawali oleh daya alam yang melimpah dan kegemilangan peradabannya yang membuat kaum Saba menjadi sombong, ingkar terhadap nikmat yang diberikan, dan mendustakan utusan Allah (Rasul).

Banjir besar itu dalam Alquran disebut dengan Sail al-Arim. Sail al-Arim berarti air yang meluap (melimpah) atau banjir besar. Menurut ahli sejarah, banjir itu terjadi sekitar tahun 120 M, atau dua abad setelah zaman Ratu Balqis.

Letak Bendungan
Selain arsitektur bangunan, para arsitek di masa itu juga memperhitungan detil posisi bangunan. Bendungan ini terletak di antara tiga bukit. Sehingga air dari tiga arah dataran tinggi itu mengalir ke satu tempat. Semuanya tertampung di bendungan. Sebelum membangun bendungan, mereka meletakkan batu-batu padat dan timah. Batu-batu tersebut berfungsi sebagai gerbang dan timah-timah untuk menahan air.

Sumber-sumber sejarah menyebutkan, sebelum Bendungan Ma’rib runtuh, bendungan ini memang mengalami kerusakan berat. Menurut sumber-sumber Arab, sekitar tahun 145 SM terjadi peperangan antara orang-orang Raidan dengan Kerajaan Saba’. Perang inilah yang menimbulkan kerusakan bendungan. Sampai akhirnya terjadi banjir arim seperti yang disebutkan dalam Al-Quran.

Akibatnya hancurnya bendungan ini, Yaman yang hijau dan makmur berubah menjadi negeri yang tandus dan gersang. Bahkan sekarang menjadi salah satu negeri termiskin di Jazirah Arab. Keadaan ini membuat penduduknya hijrah ke berbagai penjuru Jazirah Arab.

Akhir Masa Kemakmuran
Di masa akhir kejayaan peradaban Yaman, Kerajaan Ma’rib dipimpin oleh seorang raja yang bernama Amr bin Amir. Di masanya, orang-orang Saba’ hidup dalam kondisi aman dan makmur.

Suatu kali istri raja bermimpi melihat bayangan petir dan guntur yang menyambar segala sesuatu di kota yang berakibat hancurnya kota. Setelah itu tikus-tikus datang menghancurkan negeri itu.

Mimpi sang istri membuat Raja Amr bin Amir begitu khawatir. Ia pergi menuju Bendungan Ma’rib, ternyata ia lihat ada tikus yang sedang menggerogoti bendungan. Sampai-sampai tikus itu mampu memakan bebatuan besar dan menggesernya dari posisinya. Dia pun yakin bahwa kehancuran akan datang. Dan tak ada jalan untuk menghindarinya.

Allah Ta’ala mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya: “Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” [Quran Saba: 15-17].

Artinya, Ma’rib adalah negeri yang sangat makmur, sangat indah, dan sangat hijau. Kemudian berubah menjadi negeri yang begitu kering dan panas. Namun penduduknya kufur kepada Allah. Kemudian Allah ganti kenikmatan itu dengan kesulitan.***

Tinggalkan komentar