Kesialan Karena Bermaksiat Kepada Allah

TERKADANG ketika kita tertimpa kesialan, seringkali kita menyalahkan nasib. Bahkan tak jarang juga kita menyatakan kehidupan ini yang tidak adil. Lalu menggerutu pada nasib sehingga lupa kenapa sesungguhnya kesialan itu terjadi. Manusia yang mengalami nasib sial justru karena mereka bermaksiat kepada Allah dan mengotori kerajaan-Nya yang suci dengan najis dosa.

Padahal Allah SWT telah menciptakan dan kemudian menghidupkan kita di muka bumi yang suci ini, serta memerintahkan kita untuk mentaati-Nya. Namun, manusia justru mengotori kehidupannya dengan najis maksiat dan dosa. Tentu saja, najis yang dimaksud di sini adalah najis manawi, bukan najis ragawi yang terindra.

Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (QS. Ar-Rum ayat 41).

Ibnu Athaillah telah menjelaskan, salah satu bentuk nikmat yang Allah berikan kepada kita, yakni bahwa dia senantiasa memperlakukan kita dengan baik. Dia menjanjikan kehidupan yang menyenangkan dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat kepada siapa saja yang menaati-Nya.

Allah juga menjamin rezeki untuk seluruh makhluk, seperti firman-Nya: “Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 58).

Allah juga berfirman: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (QS. Al Jumu’ah: 11).

Ketika Allah telah berbuat baik kepada kita, justru kita membalasnya dengan penentangan dan pengkhianatan. Alih-alih menetapi ketaatan, kita justru menentang Tuhan dan mengisi bumi dengan berbagai macam dosa yang tak terhitung banyaknya serta dengan penentangan kepada-Nya.

Kita melupakan janji yang Allah tuntut dari diri kita sehingga apa yang Allah katakan terwujud: “Rasakanlah (siksa itu) akibat sikapmu yang melupakan pertemuan dengan harimu ini, kami juga telah melupakanmu.”

Wahai manusia, sungguh Tuhan telah memberimu yang sebelumnya tak pernah kau harapkan dan menganugerahi sesuatu yang tak pernah kauminta. Dia menutupi keburukanmu yang beraroma sangat buruk. Andai aroma keburukanmu disingkapkan, niscaya akan menimbulkan kegaduhan. Namun, kegaduhan itu tidak berarti dibandingkan kerugianmu yang kehilangan ke sempurnaan.

Ada sebuah kisah berkaitan dengan hikmah ini yang diceritakan oleh Abdullah ibn Abi Nuh. Ia bertutur, “Seorang lelaki yang tinggal di pantai bertanya kepadaku, ‘Berapa kali kau melakukan sesuatu yang dibenci tuhan, tetapi Dia memperlakukanmu dengan sesuatu yang kau senangi?’

‘Tidak terhitung banyaknya,’ jawabku
‘Pernakah kau menghampiri-Nya ketika kau menderita lalu Dia mencampakkanmu?’
‘Tidak pernah. Justru Dia berbuat baik dan menolongku.’
‘Pernahkah kau meminta sesuatu, tetapi Dia tidak memberikannya?’
‘Tidak ada yang menghalangi-Nya dari sesuatu yang kuminta. Tidak pernah aku meminta sesuatu kecuali Dia memberinya. Dan ketika aku meminta tolong, segera Dia membantu.’
‘Seandainya ada manusia yang memperlakukanmu seperti itu, apakah yang akan kau lakukan sebagai balasan untuknya?’
‘Aku tidak akan mampu membalasnya.’

‘Tuhan mu lebih berhak untuk terus kau syukuri. Dia telah berbuat baik kepadamu sepanjang waktu. Demi Allah, bersyukur kepada-Nya lebih mudah daripada membalas jasa manusia. Dia menyukai pujian dan syukur yang disampaikan hamba.’”

Ada sebagian manusia yang bersikap sombong dan tak tahu berterima kasih. Mereka mendapat kebaikan yang berlimpah, tetapi bagi mereka semua kebaikan itu bagaikan tulisan di atas air. Tak ada sama sekali yang berbekas di jiwa mereka dan tidak ada satu pun yang mereka akui. Mereka menunjukkan kebutuhan dan kepapaan serta kelemahan ketika datang meminta bantuan, tetapi ketika kebutuhan mereka dipenuhi, mereka pergi begitu saja tanpa sedikit pun terungkap syukur.

Banyak manusia yang memperlakukan Allah dengan sikap seperti itu. Mereka berdoa dan memohon kepada Allah, tetapi ketika permohonan mereka dikabulkan, dan ketika tangan mereka telah terisi, mereka berlalu begitu saja seakan-akan tidak pernah meminta dan memohon kepada Allah. Mereka beranjak seakan tidak mengenal Allah sama sekali. Mereka pergi tanpa bersyukur dan tanpa merasa malu sedikit pun.

Ketahuilah, kita semua tidak pernah lepas dari nikmat Allah. Lalu mengapa kita tidak membangunkan pikiran kita yang sedang tidur untuk mengenali karunia Tuhan?! Mengapa kita tidak menyadarkan jiwa untuk bersyukur dan berterima kasih kepada Dia yang telah menjamin seluruh kebutuhan kita?!***

Tinggalkan komentar