Hukum Mengunjungi Kuburan dan Situs Bersejarah

DALAM melakukan perjalanan wisata, kita sering bertemu sejumlah situs bersejarah, seperti kuburan, kuil-kuil, baik milik kaum muslimin maupun orang-orang kafir. Tempat-tampat tersebut menjadi ikon wisata penting karena memiliki bangunan menjulang dan ornamen yang indah. Lalu bagaimanakah hukum mengunjunginya?

Biasanya ziarah yang disukai adalah ziarah kubur yang dilakukan untuk mengingat kematian, alam kubur, dan negeri akhirat. Ziarah seperti ini diperbolehkan bagi laki-laki, berdasarkan kesepakatan para ulama. Rasulullah SAW bersabda: “Dulu aku pernah melarang kalian ziarah ke kuburan, maka sekarang berziarahlah.” Imam At-Tarmizi menambahkan, dalam sebuah riwayat, bersanad Hasan: “karena hal itu dapat mengingatkan kalian akan akhirat.”

Maksudnya adalah berziarah kubur di negeri sendiri, bukan berziarah kubur dengan menempuh perjalanan dan bepergian jauh. Karena tidaklah disyariatkan bepergian jauh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, kecuali ketiga masjid, tapi juga tidak masuk ke dalam kategori ziarah yagn diharamkan. Seperti seseorang berziarah ke makam kerabat atau teman, dan tidak punya niat untuk mendapatkan kemaslahatan syariat yang bersifat eskatologis. Contoh ziarah model kedua ini seperti berziarah ke kuburan dalam rangka berjalan-jalan, menjelajahi suatu kawasan dan mengeksplorasi situs peninggalan sejarah beserta kuburan-kuburan, bangunan, dan ornament ukirannya.

Ziarah yang Diharamkan:
Ziarah kubur yang dibarengi dengan ritual-ritual haram, bid’ah, syirik. Semisal duduk di atas kuburan, berjalan-jalan mengelilinginya, menampar muka sendiri, meratapi, dan menangis berteriak-teriak. Atau dibarengi dengan tindakan bid’ah dan syirik, seperti bertabarruk (minta berkah) dan beristighatsah (minta bantuan) kepada kuburan. Atau memohon dan meminta bantuan kepada penghuni kuburan, atau menjadikan penghuni kuburan sebagai wasilah (tawassul), sebagaimana dilakukan sebagian orang. Kita memohon kekuatan dan keselamatan hanyalah kepada Allah semata.

Ziarah ke makam kepala Husain di dua lokasi di Suriah dan Mesir. Ibnu Katsir menjelaskan: “Kelompok orang-orang Fathimiyah yang menguasai negeri Mesir sebelum tahun 400 Hijriyah hingga 660 Hijriyah mengklaim bahwa kepala Husain di bawa ke Mesir. Mereka menguburkannya di Mesir, dan membangun sebuah tugu peringatan yang sangat popular dan dinamakan dengan Taj Al-Husain (mahkota Husain) pada tahun 500 Hijriyah.

Namun tidak sedikit ulama yang menyebutkan bahwa hal tersebut tidak berdasar. Mereka sejatinya melakukan hal itu hanya semata untuk mempubllikasikan kebohongan klaim keturunan mulia, dan perbuatan mereka itu merupakan sebuah kebohongan dan penghianatan.

Berkunjung ke Kuburan Kaum Musyrik. Menurut pendapat Jumhur (mayoritas) ulama, berziarah ke kuburan kaum Musyrik hukumnya boleh, bertentangan dengan pendapat Al-Mawardi. Karena menurut jumhur, makna : “dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya” adalah janganlah kalian berdoa dikuburannya, bukan berarti larangan berziarah kekuburannya. Sedangkan ziarah ke kuburan memiliki tiga bentuk, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Dalil yang membolehkan ziarah ke kuburan orang-orang musyrik adalah:

Sabda Rasulullah: “dulu aku pernah melarang kalian dari ziarah kekuburan, maka sekarang berziarahlah!” kalimat kuburandidalam hadits ini mencakup kuburan kaum muslimin dan orang-orang kafir

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW berziarah ke makam ibundanya, kemudian beliau menangis, dan orang-orang disekitar beliau pun menangis. Beliau berkata: “aku meminta izin kepada Rabbku untuk memintakan ampunan untuk ibuku. Tapi Dia tidak mengizinkannya. Dan aku meminta izin untuk menziarahi makam ibuku, maka Dia mengizinkannya. Maka berziarahlah kalian karena ziarah tersebut dapat mengingatkan kalian kepada kematian.” Disebutkan didalam Aun Al-Ma’bud, bahwa dalam hadits ini terdapat keterangan bolehnya ziarah ke kuburan orang-orang musyrik dan larangan memohon ampunan bagi orang-orang kafir.”

Peringatan Terkait Ziarah ke Kuburan Orang Non Muslim.
Tidak diperbolehkan mendoakan atau memintakan ampunan bagi penghuni kuburan. Allah berfirman, “Dan janganlah kamu sekal-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.”(At-Taubah: 84).

Ibnu Katsir berkata: “Allah memeritahka Rasul-Nya agar berlepas diri dari orang munafik, jangan menyalatkan jenazah salah seorang pun dari mereka, dan jangan berdiri dikuburannya untuk memohonkan ampunan atau mendoakannya. Ini mengingat, mereka mengingkari Allah dan Rasul-Nya, serta mati dalam keadaan kafir. Hukum ini bersifat umum mencakup siapa saja yang diketahui kemunafikannya, meskipun ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul, pemimpin orang-orang munafik.

Tidak diperbolehkan mengucapkan salam kepadanya. Sebagaimana tidak diperbolehkan mengucapkan salam kepada orang kafir semasa hidupnya, pun demikian ketika dia telah meninggal dunia.****

Tinggalkan komentar