Hikmah Dibalik Kalah dan Menang Perangnya Rasulullah (1)

SAAT berjuang menegakkan panji-panji Islam, Nabi Muhammad Saw ditimpa banyak ujian, cobaan termasuk kalah dalam peperangan. Tak semua perang untuk menegakkan agama Allah dimenangkan Rasulullah. Ada kalanya kekalahan pahit pun harus dirasakan Rasul dan pengikutnya. Ternyata hal tersebut bukan tanpa maksud, karena Allah memberikan hikmah dibalik semua peristiwa tersebut.

Pertama, memberitahu tentang buruknya akibat dari perbuatan maksiat, mundur, perselisihm dan bahwa apa yang telah menimpa mereka adalah akibat buruk dari itu semua.

Allah berfirman: “Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul), sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu dan sesunggunya Allah telah memaafkan kamu…” (Ali Imran: 152).

Setelah mereka merasakan akibat kemaksiatan mereka kepada Rasulullah, perselisihan, dan mundurnya mereka, mereka pun jadi lebih hati-hati, sadar, dan menjauhi sebab-sebab kehinaan.

Kedua, hikmah Allah serta sunah-sunah-Nya para Rasul-Nya para pengikut mereka berlaku. Yaitu dengan menggilir kemenangan dan kekalahan. Kadang kemenangan itu berada pada kaum muslimin dan kadang pada para musuhnya. Tetapi akhirnya, kemenagan tetap milik kaum muslimin.

Jika kaum muslimin selalu menang, orang-orang yang beriman dan selainnya pasti akan bergabung dengan mereka. Sehinga tidak akan terpisahkan antara orang yang benar (jujur) dan yang tidak.

Seandainya mereka selalu menang, maksud dari diutusnya Rasulullah tidak akan tercapai. Sehingga, hingga Allah menuntut untuk mengumpulkan bagi mereka antara dua perkara tersebut (kemenangan dan kekalahan). Untuk memisahkan siapa yang mengikuti dan manaati mereka dalam kebenaran serta misi yang mereka bawa dan siapa saja yang mengikuti mereka hanya karena kemenangan dan keunggulan saja.

Ketiga, ssungguhnya ini termasuk tanda-tanda para Rasul, sebagaimana perkataan Hiraklius kepada Abu Sufyan: “Apakah kalian memeranginya?” Ia menjawab, “Ya”
“Bagaimana peperangan yang terjadi antara kalian dengannya?” lanjut raja.
Ia menajwab, “Berimbang. Kadang kami kalah dan kadang mereka yang kalah.”
“Seperti itulah para rasul diuji, namun akhir yang baik ada pada mereka,” tegas sang raja.

Keempat, agar tampak mana seorang mukmin yang benar dan mana seorang munafik tukang dusta. Ketika Allah memberikan kemenangan kepada umat Islam dalam peperangan Badar, yang menyebabkan reputasi mereka melambung, orang-orang munafik masuk Islam bersama kaum muslimin dengan menampakkan sesuatu yang tidak sama dengan batin mereka.

Sehingga hikmah Allah menjadikan ujian bagi para hamba-Nya untuk memisahkan antara orang mukmin dan orang munafik. Orang-orang munafik pun menampakkan batang leher mereka dalam peperangan Uhud dan berbicara dengan hal yang selama ini mereka sembunyikan. Tampaklah pengkhiatan mereka. Mereka menampakkannya secara terang-terangan, sehingga manusia pun terbagi dengan jelas, antara kafir, mukmin, dan munafik.

Umat Islam mulai tahu bahwa mereka memiliki musuh yang bersembunyi di dalam tubuh mereka. Musuh-musuh yang selalu bersama mereka dan tidak berpisah. Mereka pun bersiap menghadapi musuh-musuh tersebut dan berjaga-jaga dari mereka.

Allah berfirman: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya diantara Rasul-Rasul-Nya…” (Ali Imran: 179).

Maksudnya, Allah tidak akan membiarkan kalian bercampur dengan orang munafik. Dia pun memisahkan antara orang-orang beriman dengan orang-orang munafik. Dia pisahkan antara mereka dengan ujian dalam perang uhud. Allah tidak memperlihatkan kepada kalian hal-hali gaib untuk memisahkan antara mereka (orang-orang beriman dan orang-orang munafik). Sesungguhnya mereka dipisahkan di dalam kegaiban dan ilmu-Nya.

Allah ingin memisahkan mereka dengan perbedaan yang dapat dilihat. Maka, ilmu-Nya yang gaib pun menjadi Nampak. Sedangkan firman-Nya: “…Akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya…” (Ali-Imran: 179), merupakan istidrak (susulan) atas peniadaan-Nya bahwa makhluk tidak dapat melihat sesuatu yang gaib, selain para Rasul. Karena dia akan memperlihatkan kepada mereka kegaiban apa saja yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana firman-Nya:

“(Dia adalah zat) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang gaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridahi-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) dimuka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27).

Sedangkan kewajiban dan kebahagian kalian adalah mengimani hal-hal gaib yang ditampakkan kepada para Rasul. Jika kalian beriman dan yakin dengannya, kalian akan mendapatkan seagung-agung pahala dan kemuliaan.

Kelima, mengeluarkan peribadatan wali-wali dan golongan-Nya pada waktu lapang maupun sempit. Juga apa yang mereka senangi dan benci serta pada waktu mereka menang maupun ketika kemenangan ada pada musuh mereka. Jika mereka tetap teguh dalam ketaatan serta peribadatan, baik yang mereka senangi atau benci, berarti mereka adalah para hamba-Nya yang sebenarnya. Bukan seperti orang yang beribadah kepada Allah di satu tepian, yaitu ketika dalam kondisi lapang, mendapat nikmat, dan ketika sehat saja.

Keenam, sesungguhnya jika Allah menguji para hamba-Nya itu, baik dengan kekalahan, dan kekecewaan, mereka akan tunduk serta merendahkan dan menghinakan diri. Mereka pun akan memperoleh kemuliaan dan kemenangan dari-Nya. Karena kemenangan hanya akan turun jika disertai ketundukan dan kehinaan.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah…” (Ali Imran: 123).

Allah juga berfirman: “…Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun…” (At-Taubah: 25).

Apabila Allah menginginkan untuk memuliakan dan memenangkan hamba-Nya, ia ahrus tunduk terlebih dahulu kepada-Nya. Sedangkan kemenangan serta kebaikan dari-Nya sesuai dengan kadar ketundukan dan kerendahan hamba.***

Tinggalkan komentar