Hal yang Perlu Diketahui Terkait Bepergian Jauh

UMROHRIAU.COM – Bila kita hendak bepergian maka ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan. Baik itu etikanya, waktu bepergi, perbekalan dan akhlak. Dan Islam mensyariatkan sejumlah adab Syar’i yang berkaitan dengan bepergian ini.

Pertama ialah disunnahkan bepergian pada hari Kamis. Ka’ab bin Malik menceritakan, “Sangat jarang Rasullah keluar (apabila keluar bepergian), kecuali pada hari kamis.”

Dalam hadits lainnya disebutkan; “Beliau senang keluar berpergian pada hari kamis.” Wallahualam.

Lantas bagaimana sebaiknya memberi atau ucapan yang diberikan kepada yang bepergian. Salim menceritakan, bahwa Ibnu Umar mengucapkan kepada laki-laki yang hendak berpergian, ”mendekatlah kepadaku, aku akan mengucapkan selamat jalan kepadamu, sebagaimana Rasulullah mmengucapkan selamat tinggal kepada kami, lalu beliau bersabda :
“Aku menitipkan agamamu, umatmu, dan segala akhir perbuatanmu Kepada Allah.”

Ini tentu sangat jauh lebih baik daripada hanya sekedar mengucapkan selamat jalan dan semoga sampai tujuan. Sedangkan terkait perbekalan, kita dapat menyimak firman Allah, “Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baiknya perbekalan adalah takwa,” (Al-Baqarah: 197).

Imam Ath-Thabari menjelaskan,”Disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan segolongan orang yang menunaikan ibadah haji tanpa membawa perbekallan. Apabila berihram (melaksanakan umrah atau ibadah haji), sebagian dari mereka membuang perbekalan yang mereka miliki, lalu meminta perbekalan orang lain. Kemudian Allah memerintahkan kepada orang yang belum membawa perbekalan agar berbekal untuk perjalanannya, serta siapa saja yang telah berbekal, agar menjaga bekalnya dan jangan lah membuangnya.”

Tentunya juga, sangat dianjurkan bagi mereka yang bepergian juga diharuskan untuk berkerjasama di antara rekan-rekannya. Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Sesungguhnya para sahabat dari kalangan kabilah Asy’ari, apabila mereka hampir habis perbekalannya dalam peperangan atau menipis stok makanan keluarganya di Madinah, maka mereka mengumpulkan apa yang mereka miliki ke dalam satu kain. Lalu mereka membagi rata di antara mereka, ke dalam satu wadah dengan sama rata. Mereka adalah golongan ku dan aku adalah golongan mereka.”

Mengenak akhlak dalam perjalanan, Imam An-Nawawi berkata,”seorang musafir harus bersikap ramah dan berakhlak baik kepada para hamba sahaya (budak), penuntut unta, budak, peminta-minta, dan yang lainnya. Dia juga diharuskan untuk menghindarkan diri dari pertengkaran, perilaku kasar, persaingan tidak sehat dengan orang-orang di jalanan maupun di sumber-sumber mata air, jika memang kemungkinan. Dia juga mesti menjaga lisannya agar tidak melontarkan cacian, melalukan ghibah, melaknat binatang, dan berbagai kata-kata lainnya. (*)

Tinggalkan komentar