Esensi Hijrah

ALLAH telah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 218).

Pada ayat yang lain Allah tegaskan bahwa orang yang berhijrah itulah orang yang terbukti benar keimanannya.

“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezki (nikmat) yang mulia.” (QS. Al-Anfal: 74).

Karena itu makna hijrah dapat dipahami sebagai suatu gerakan perpindahan secara totalitas, mulai dari fikriyah hingga amaliyah, dari jahiliyah menuju Islamiyah dalam satu gerakan yang rapi, sistemik dan keseluruhan, baik dalam konteks pribadi maupun sosial.

Tentu saja hijrah harus dilakukan atas dasar niat karena Allah dan tujuan mengharap rahmat dan keridhaan Allah. Bahwa orang-orang beriman yang berhijrah dan berjihad dengan motivasi karena Allah dan tujuan untuk meraih rahmat dan keridhaan Allah, mereka itulah adalah mu’min sejati yang akan memperoleh pengampunan Allah, memperoleh keberkahan rizki (nikmat) yang mulai, dan kemenangan di sisi Allah.

Setelah Rasulullah SAW dan para sahabatnya menaklukkan kota Makkah dari pengaruh kaum musyrikin Quraisy, yang dikenal dengan fathu Makkah, Rasulullah bersabda: “Tiada hijrah setelah Al-fath (fathu Makkah), akan tetapi jihad dan niat…”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, setelah fathu Makkah maka tidak ada lagi hijrah yang dilakukan dari kota Makkah ke kota Madinah, yang ada adalah jihad dan niat. Inilah yang dikenal dengan hjirah maknawiyah. Hijrah maknawiyah adalah hijrah dengan hati menuju Allah dan Rasul-Nya, dan inilah hijrah yang sebenarnya, karena hijrah jasadiyah akan mengikuti hijrah maknawiyah.

Hijrah maknawiyah menjadi fardhu ‘ain bagi setiap muslim kapan saja dan di mana saja di berada. Hijrah maknawiyah ini, meliputi kata dari dan ke atau kepada, oleh karenanya seseorang yang berhijrah pada hakikatnya berhijrah dari banyak hal, diantaranya:

Pertama: dia berhijrah dari mencintai selain Allah kepada cinta kepada-Nya. Bila kita mencintai Allah secara benar dan lurus, maka apapun dan bagaimana pun perintah-Nya pasti kita akan senatiasa mengikuti dan melaksanakan segala perintah-Nya, dan cara mencintai-Nya adalah dengan mengikuti segala apa yang diperintah dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Yang kedua adalah: kita harus berhijrah dari penghambaan kepada selain Allah kepada penghambaan hanya kepada-Nya. Kita harus membebaskan diri kita dari penghambaan kepada manusia kepada penghambaan kepada Tuhan Manusia, dari penghambaan kepada berhala dengan segala macam dan jenisnya kepada penghambaan kepada Allah SWT semata.

Hijrah yang ketiga yaitu: kita berhijrah dari rasa takut kepada selain Allah kepada takut hanya kepada-Nya. Seringkali umat Islam merasa takut kepada selain Allah, takut kepada penguasa zhalim, takut kepada atasan bahkan teman dekan dan kerabat yang menjajikan nilai hampa dan tak bermakna sehingga bila kita mentaatinya akan membawa kita kepada kemaksiatan kepada Allah SWT. Seharusnya sebagai seorang Mukmin kita hanya takut kepada Allah yang Kuasa atas segala sesuatu.

Keempat: kita harus berhijrah dari penyerahan urusan kita kepada selain Allah kepada bertawakkal hanya kepada-Nya. Setelah kita berusaha dan bekerja secara optimal, kita iringi dengan doa harap, kita serahkan semua urusan kita hanya kepada-Nya. Kita bertawakkal hanya kepada Allah SWT secara penuh dan totalitas. Sehingga kita merasa, aman, nyaman dan yakin akan pertolongan Allah SWT, dan kita yakin bahwa segala urusan kita cukuplah Allah di atas segala-galanya.

Kelima: dari berdoa kepada selain Allah SWT kepada berdoa hanya kepada-Nya. Fenomena yang sangat menyedihkan, di mana banyak umat Islam yang berdoa dan mengharap Sesuatu kepada selain Allah SWT. Bila mereka ada suatu hajat mereka mendatangi para normal, dukun, kuburan dan yang semacamnya.

Mereka meminta dan berharap agar ada isyarat permintaannya dapat terwujud dan dikabulkan. Padahal hanya Allah SWT Tuhan yang Maha Memberi, Tuhan yang maha Pengasih. Dia memberi walau pun tidak diminta apalagi bila kita selalu memohon dan meminta kepada-Nya.

Pada haikikatnya hijrah itu adalah meninggalkan perbuatan maksiat dan segala prilaku jahiliyah yang membuat kita celaka di dunia apalagi di akhirat kelak, kepada cahaya Islam yang terang benderang yang pasti menghantarkan kita kepada kehidupan dunia yang bahagia dan selamat di akhirat.***

Tinggalkan komentar