Bukit Jin atau Jabal Magnet di Madinah

JABAL Magnet di Madinah karena dianggap ada magnet di kawasan ini. Orang Arab menyebutnya Wadi al-Baidha atau Mantiqa al-Baidha (lembah putih). Sebab, di kawasan ini, terhampar bukit memanjang yang tampak berwarna putih. Sementara yang lain lagi menyebutnya dengan Wadi al-Jinn (lembah para jin).

Nama-nama berbau jin, cukup banyak di kawasan Tanah Suci. Di Makkah, setidaknya ada dua, pertama Masjid Jin yang terletak di sekitar perkampungan Ma’la, dekat dengan Kompleks Pemakaman Ma’la.

Yang kedua, adalah sebuah kecamatan, istilah kita di Indonesia, yakni Mahbas Jin. Mahbas Jin berarti penjaranya jin. Nah, yang ketiga adalah Wadi al-Jinn yang ada di Madinah, tepatnya di Jabal Magnet ini.

Jika Anda bertanya pada orang Madinah, soal Jabal Magnet, mereka mungkin akan mengerutkan dahinya. Mungkin juga ada yang sudah familier dengan nama itu. Namun, untuk kawasan bukit di Jabal Magnet ini, mereka lebih senang menyebutnya dengan Mantiqa al-Baidha atau Wadi al-Baidha (lembah putih).

Kawasan ini cukup banyak pepohonan hijau bila dibandingkan dengan kawasan lain. Banyak kebun kurma di sekitarnya. Bahkan, pada saat kami berkunjung, ada banyak pohon kurma yang berbuah sangat matang. Oleh pemilik kebun kurma, buah kurma itu sudah dibungkus dengan plastik agar tidak jauh langsung ke tanah, atau pasir yang berserakan di sekitar tanaman itu.

Amat sangat berbeda dibandingkan kawasan lain. Lebih sejuk pemandangannya dengan pepohonan yang tumbuh di sekitarnya. Mata cukup dimanjakan dengan keindahan dan lambaian daun pohon kurma. Bisa ngiler menyaksikan ranum dan manisnya buah kurma.

Bagi orang Arab, mereka juga lebih senang menyebut kawasan Jabal Magnet ini dengan nama Wadi atau Mantiqa al-Baidha, lembah putih, dibandingkan dengan wadi al-Jinn (lembah jin). Selain karena lebih soft, lembut, dan enak di dengar, daripada lembah jin. Kesannya jadi angker dan menyeramkan.

Betulkah di sini ada jin? Allahu a’lam. Dan kalau ada, juga biasa-biasa saja. Ia berbeda alam dengan kita. Yang pasti, jin senantiasa berada di tempat yang kotor, dan jauh dari hunian manusia.

Bisa saja benar ada jin, apalagi daerah ini juga sudah berada di luar wilayah ‘haram’. Haram disini maknanya adalah mulia, bukan haram yang merupakan lawan dari kata halal. Bukan.

Sekitar 10 kilometer dari Jabal Magnet ini, ada beberapa bukit, salah satu bukit itu terdapat satu bukit yang di atasnya berdiri sebuah gerbang kecil sekira lebar 1-2 meter dan tinggi antara 2-3 meter. Bahan dasarnya sejenis bata, dengan warna hitam dan krem putih. Seperti gapura, dan warnanya seperti hiasan di Masjid Nabawi.

Gapura itu menjadi penanda batas wilayah kota mulia (haram) dan bukan. Nah, Jabal Magnet ini sudah berada di luar wilayah haram. Hanya jaraknya saja masih berada di kawasan Madinah. Madinah ini semacam provinsi, seperti Makkah. Pejabat tertingginya adalah seorang gubernur.

Kembali soal Jabal Magnet, banyak yang memercayai soal jin di tempat ini. soal fenomena botol berisi air yang menggelinding ke arah ‘atas’ (menanjak) atau kendaraan yang mati namun dapat berjalan maju atau mundur, menurut mereka adalah karena ulah ‘iseng’ makhluk halus. Para makhluk halus atau jin itu tak mau tempat tinggalnya diganggu oleh manusia.

Sebagian lagi memercayai, bahwa banyak di antara mereka yang mendengar suara-suara aneh. Menurut mereka, suara itu bukanlah suara manusia. Bunyinya, ‘pergilah kalian! Ini bukan tempat kalian, pergilah.’ Begitulah.

Tak jauh dari Jabal Magnet ini, terdapat sebuah ‘danau’, atau setu (situ). Orang Arab menyebutnya wadi. Jangan sebut airnya bening. Di sekitarnya juga terdapat sejumlah permainan. Selain kendaraan ATV, onta yang bisa disewa, ada lagi permainan lain. Khususnya buat anak-anak. Perosotan, papan luncuran.***

Tinggalkan komentar