Bolehkah Selfie di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi?

SAAT kita pergi wisata ke berbagai tempat dan destinasi indah, yang paling utama kita lakukan adalah berswafoto atau selfie. Apalagi kalau berkunjung ke tempat yang unik dan jauh dari daerah asal, rasanya tidak afdhol jika tidak selfie.

Nah, jika kita dan keluarga mendapat kesempatan untuk mengunjungi tanah suci dan melakukan ibadah umroh atau haji, hal yang sama pasti ingin kita lakukan, selfie di tempat-tempat suci dan bersejarah, seperti di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Berbeda dengan selfie di tempat lain, tentu timbul keraguan jika kita ingin selfie di tempat suci ini, bagaimanakah hukumanya?

Kementerian Luar Negeri Arab Saudi sebenarnya telah menerbitkan nota diplomatik ke sejumlah negara terkait larangan bagi jemaah haji dan umroh berselfie di dalam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Nota diplomatik itu meneruskan kebijakan yang diambil Kementerian Urusan Haji dan Umrah Saudi.

Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Mastuki, membenarkan adanya nota diplomatik dengan nomor 270 tertanggal 15 November 2017. Larangan ini akan disosialisasikan secara lebih luas kepada jemaah dan biro jasa perjalanan haji dan umroh.

“Larangan ini akan kami follow up dengan sosialisasi ke Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU), asosiasi umrah, serta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) agar diperhatikan dan menjadi materi yang disampaikan ke jemaah sebelum keberangkatan ke Saudi,” ujar Mastuki, dikutip dari kemenag.go.id.

Sebenarnya larangan berselfie di dua masjid suci itu sudah lama berlaku. Larangan itu kembali diterbitkan karena semakin banyaknya jemaah baik haji maupun umroh, khususnya dari Indonesia, yang tidak mengindahkan larangan itu.

Berangkat dari Keresahan

Pelarangan itu didasarkan pada pertimbangan terganggunya kekhusyukan jemaah lain yang sedang beribadah. Parahnya, selfie dilakukan di posisi dekat dengan Kabah, Raudah, dan bagian dalam lainnya dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, yang tentu banyak orang beribadah di sana. Kebijakan nota tersebut ditetapkan berdasarkan keresahan yang ada saat terselenggaranya ibadah umroh dan haji.

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari kebijakan pemerintah Arab Saudi tersebut yaitu bahwa kita sebagai jemaah umroh atau haji sepatutnya menggunakan alat dokumentasi dengan bijak dan arif.

Kita memang tidak mau tertinggal momen langka di tempat yang luar biasa yaitu rumah Allah, namun kita juga harus mempertimbangkan berbagai aspek seperti kenyamanan jemaah lain yang sedang melaksanakan ibadah, tidak berlebihan, tidak mengandung niat untuk riya, dan yang paling penting adalah inti dari tujuan kita yaitu untuk semata-mata beribadah umroh atau haji.

Maka dari itu, boleh lah kita berfoto saat umroh atau haji, namun pertimbangkanlah berbagai aspek seperti waktu, kondisi, dan tempat. Lebih baik jika kita berfoto ketika sedang waktu senggang aja (waktu bebas untuk belanja), di tempat yang bebas untuk melakukan kegiatan (bukan masjid), dan tentunya tidak merepotkan orang lain apalagi orang yang sedang melaksanakan ibadah. ***

Tinggalkan komentar