Belum Seberapa Ujian Manusia Dibanding Ujian Untuk Rasulullah

SEBAGAI Rasul Allah, ujian silih berganti datang kepada Nabi Muhammad Saw. Ujian itu berupa pendustaan dari kaumnya, siksaan, celaan, hinaan hingga ada yang meletakakn isi perut unta yang telah membusuk ke atas punggung beliau ketika beliau sedang shalat. Juga ujian berupa permusuhan beberapa kerabatnya, seperti paman beliau Abu Lahab si thaghut yang melampaui batas

Beliau juga duji dengan pengisosalisian serta pemboikotan. Beliau dan para sahabatnya diboikot di lembah Abi Thalib, hingga beliau harus makan dedaunan. Bahkan salah seorang dari mereka diperlakukan layaknya binatang ternak. Ujian yang lain berupa usaha dari kaumnya untuk membunuh, mengusir, dan menjauhkan Rasulullah dari negeri Mekah.

Allah berfirman: “Dan (Ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah mengagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Al-Anfal : 30 ).

Bentuk ujian yang lain juga adalah hijrah dan perpisahannya dengan negeri Allah yang mulia, yaitu negeri Allah yang paling dicintai-Nya, negeri yang beliau cintai. Pada saat itu kedua mata beliau sampai meneteskan air mata, lebih-lebih ketika hendak meninggalkan keluarga dan sahabat-sahabtnya. Semua itu beliau lakukan karena keimanan beliau kepada Allah yang maha pemurah dan maha penyayang,

Meski demikian, tidak lantas beliau keluar dari negeri Mekah dalam keadan aman dan tentram. Orang-orang kafir selalu memata-matai beliau disetiap saat. Bahkan, mereka tak segan memeberikan hadiah yang sangat besar bagi orang yang dapat menangkap beliau, hidup atau mati.

Sesampainya Rasulullah di Madinah dan tinggal disana selama waktu yang dikehendaki Allah, beliau di uji dengan orang-orang munafik dan orang-orang Arab pendalaman yang keras. Beliau juga diuji dengan orang-orang Ahlu Kitab, terutama orang-orang Yahudi yang selalu membuat rencana buruk untuk beliau serta bersekongkol dan berusaha untuk membunuhnya.

Pernah sekali waktu ada upaya untuk menimpakan batu ke atas kepala beliau, hal itu terjadi pada perang bani Nadhir. Pernah juga dalam daging kambing yang hendak dimakan Rasulullah dibubuhi racun. Dan sekali waktu juga dengan sihir.

Usaha yang mereka lakukan berlangsugn berkali-kali. Mereka terkadang menuduh dan mencela kaum mukminin dalam sedekah mereka serta mencemarkan keadilan Rasulullah. Di antara mereka ada yang berkata, “Berbuat adillah wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau tidak berbuat adil.”

Yang lain lagi berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orangyang lemah dari padanya…” (Al-Munafiqun : 8).
Sebagian mereka menyebarkan tuduhan terhadap keluarga Nabi, sebagaimana orang-orang yang menyebarkan haditsul ifki (Cerita bohong tentang ibunda Aisyah).

Semua ujian itu selain yang menimpa beliau di dalam berbagai medan peperangan dan pertempuran. Di medan perjuangan, kepala Rasulullah terlukan dan gigi serinya pecah. Beliau juga harus kehilangan pamannya yang dicintainya, Hamzah. Beliau melihat jasad Hamzah yang telah dimultilasi oleh orang-orang kafir (ini semua terjadi dalam perang Uhud-edt). Juga kematian anaknya.

Ujian beliau dilipatgandakan, sebagaimana pahala beliau juga dilipatgandakan. Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Aku masuk kepada Nabi, sedangkan saat itu beliau sedang demam. Aku meletakakn tanganku kepadanya, ternyata panasnya sampai di antara tanganku diatas selimut.

Aku tanyakan kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, alangkah beratnya demam ini? Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya kami (para nabi) seperti itu. Ujian kami dilipatgandakan, sebagaimana pahala untuk kami juga dilipatgandakan.’

Aku bertanya kembali, ‘Wahai Rasulullah, manusia mana yang paling berat ujiannya?’ Beliau menjawab, ‘Para Nabi.’ ‘Kemudian siapa lagi?’ tanyaku kembali. Beliau menjawab, ‘Orang-orang saleh, sesungguhnya ada salah seorang diantara mereka yang diuji dengan kefakiran, sampai-sampai tidak ada yang ada pada dirinya kecuali hanya pakaian yang menutupi tubuhnya. Dan sesungguhnya salah seorang diantara mereka sungguh merasa bahagia dengan ujian, sebagaimana kalian merasa bahagia ketika mendapatkan kenikmatan.’

Benar, banyak sekali jenis dan macam ujian. Akan tetapi, ujian yang paling berat bagi manusia adalah yang menimpa para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang-orang yang semisalnya. Sa’ad bin Abi Waqash pernah bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” beliau menjawab :

“Para nabi, kemudian orang-orang yang semisalnya, lalu orang-orang yang semisal mereka. Seseorang itu akan diuji sesuai dengan kadar agamanya; apabila kualitas agamanya kuat, maka ujiannya pun akan berat. Namun jika kualitas agamanya kurang (tipis), ia pun akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Ujian akan senantiasa menimpa seorang hamba sehingga ujian tersebut meninggalkannya berjalan diatas muka bumi ini tanpa kesalahan.”

Gangguan lain yang ditimpakan kepada Rasulullah Saw adalah seperti dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari jalan Urwah bahwa Aisyah (istri nabi Muhammad) pernah bertanya kepada Rasulullah, “Adakah hari yang lebih berat bagi anda melebihi hari saat perang Uhud?”

Beliau menjawab, “Sungguh aku telah mendapatkan apa yang aku dapatkan dari kaum kamu, yaitu ketika aku bertemu dengan mereka pada hari Aqabah. Adapun hari yang lebih berat bagiku adalah hari Aqabah, ketika aku menawarkan diriku kepada Ibnu Abdul Yalil bin Abdul Kalal, namun ia tidak menjawab sesuai dengan keinginanku. Lalu aku pun pergi, dan aku sangat sedih sekali, sampai-sampai aku tidak menyadari kalau aku sudah berada di Qarni Ats-Tsa’alib. Aku pun mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat telah ada awan yang menaungiku.

Ternyata aku melihat jibril disitu dan ia memanggilku, ‘Sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu serta jawaban mereka kepadamu. Dan sungguh Allah telah mengutus kepadamu Malaikat Penjaga Gunung agar kamu menyuruhnya untuk berbuat apa pun yang kamu kehendaki atas mereka.’

Kemudian malaikat penjaga Gunung menyeruku dan mengucapkan salam kepadaku, lalu menyapa,’Wahai Muhammad, hal itu terserah kamu, apabila engkau menghendaki, aku akan menimpakan dua gunung yang ada di Mekah kepada mereka?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak, bahkan aku berharap agar Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka keturunan yang mau menyembah Allah yang Maha Esa dan tidak berbuat syirik kepada-Nya sedikit pun.”

Rasulullah juga bersabda: “Sungguh aku telah disakiti karena memperjuangkan dien Allah dan tidak ada seorang pun yang pernah disakiti sepertiku. Aku juga telah dibuat takut di jalan Allah dan tidak ada seorang pun yang pernah dibuat takut sepertiku. Pernah berlalu tiga hari tiga malam, sedangkan aku dan keluargaku tidak memiliki makanan yang bisa dimakan hewan sekalipun selain kain yang hanya bisa menutupi ketiak Bilal.”

Diantara gangguan yang diterma oleh Rasulullah juga adalah sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Mas’ud. “Ketika Rasulullah sedang bersujud-Saat itu disekitarnya banyak orang, datanglah Uqbah bin Abi Muith dengan membawa kotoran berupa isi perut unta. Ia menimpakannya ke punggung nabi, namun beliau tidak mengangkat kepalanya. Kemudian datanglah Fatimah dan membuang kotoran tersebut dari punggung beliau. Fatimah pun memanggil orang yang melakukannya. Kemudian Rasulullah berdoa:

“Ya Allah, timpakanlah kecelakaan kepada para pembesar suku Quraisy. Ya Allah, timpakanlah kehancuran kepada Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Umayah bin Khalaf, atau Ubai bin Khalaf’ untuk nama yang terakhir ini perawi ragu.

Ternyata aku melihat mereka terbunuh pada saat perang Badar. Mereka pun dilemparkan ke dalam sumur selain Umayah bin Khalaf atau Ubai bin Khalaf (karena ia seorang yang besar badannya). Ketika ia diseret, anggota badannya terputus-putus sebelum dilemparkan ke dalam sumur.”***

Tinggalkan komentar